Semalam di Kota Sukabumi

Perjalanan Menuju Kota Sukabumi

Kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Foto: Ummu Hanif 2018.

Ummi dan Buya masih belum familiar dengan aturan ganjil-genap di Ibukota. Buya lebih nyaman menggunakan motor untuk beraktifitas sehari-hari. Sangat menghemat waktu di tengah kemacetan Ibukota yang semakin semrawut. So, pagi-pagi sebelum berangkat, kita heboh mencari info tentang aturan dimaksud. Apakah jalan yang akan kami lewati termasuk salah satunya?

Nyari info kemana? Pastinya nanya si “mbah” ya. Setelah panjang kali lebar, kami yakin, jalan yang akan kami lewati tidak termasuk area larangan ganjil-genap. Oh iya, kenapa heboh banget? Karena tentunya karena kami berangkat di tanggal ganjil sementara nomor polisi mobil berakhiran genap. Tapi kemudian muncul ide untuk berangkat lewat Parung. Tapi, nanti macet tidak ya? Lama berfikir akhirnya kami memutuskan tetap lewat tol tapi berangkat setelah lewat jam larangan ganjil-genap (yang saat pulang kami syukuri karena jalan Parung arah ke Bogor sedang diperbaiki). Sebelumnya sempat menelpon salah seorang teman Buya yang sering ke sana untuk memastikan.

Masuk ke jalan tol lingkar luar kemudian bergabung ke jalan tol Jagorawi. Sempat berhenti di rest area membeli air mineral dan camilan. Kami berangkat hari Senin. Jalanan bisa dikatakan lancar. Di tol ya. Sesekali ada penyempitan jalan dan pengerjaan jalan yang membuat kemacetan. Keluar tol Ciawi, kemacetan sesungguhnya dimulai. Kami berjalan beriringan dengan truk-truk pabrik yang pulang pergi. Ditambah angkot yang berhenti di mana saja dan salip kiri kanan ketika berjalan. Belum lagi pasar yang ada di beberapa titik di sepanjang jalan ke Kota Sukabumi. Pasar yang paling panjang macetnya adalah pasar Cicurug.

Apapun itu, tetap dinikmati saja. Lagipula banyak sekali pelajaran yang bisa diambil sepanjang perjalanan. Hanya kasihan Buya, kakinya pegal tiap sebentar menginjak rem dan gas bergantian. Karena jalanan menanjak dan menurun, rem tangan juga tidak bisa lepas. Kelelahan itu terbayar setelah sampai di Kota Sukabumi. Hawanya yang sejuk dan kami disambut dengan sangat baik oleh teman Buya di sana.

Menginap di Hotel Balcony Sukabumi

Hotel Balcony
Hotel Balcony Sukabumi. Foto: Ummu Hanif 2018

Kunjungan ke Sukabumi kali ini adalah yang kedua. Ummi pernah ke kota Sukabumi sekitar tahun 2009 sebagai tim quick count salah satu lembaga survei. Waktu itu adalah masa pemilihan presiden RI. Ummi ingat sekali, saat itu kami, beberapa orang termasuk Buya, ditugaskan di Kota Sukabumi. Ummi menumpang di salah satu rumah warga. Tetehnya sangat baik. Kami bertemu di bis dalam perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi. Sementara Buya dan beberapa teman dari lembaga survei yang lain menginap di pos polisi.

Kali ini, Buya diundang salah satu kampus di Sukabumi untuk memberikan ceramah. Hotel yang disediakan untuk kami sangat bagus. Rapi, bersih, dan ramah. Hotel Balcony. Dari balkon kamar lantai 3 kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Jajaran rumah penduduk diselingi pohon-pohon serta deretan tambak ikan. Sayang Ummi lupa memoto gedung hotel dari luar.

WIFI termasuk ke dalam fasilitas yang digratiskan di hotel ini. Jika kamu memesan kamar yang tidak include sarapan di dalamnya, jangan khawatir. Kamu bisa menikmati pagi berjalan kaki menghirup udara segar dan membeli sarapan dari warung-warung penduduk setempat.

Tertarik menginap di sini? Lokasinya di Jalan Selabintana nomor 35, Sukabumi. Harganya berkisar antara 300-800 ribu per malam. Biasanya kamu bisa mendapatkan diskon jika memesan melalui website seperti pegi-pegi, tiket.com, traveloka, agoda, booking.com serta yang lainnya. Tentu saja jika ingin memesan langsung ke hotelnya juga bisa. Kunjungi websitenya di sini.

Oleh-oleh dari Kota Sukabumi

Mochi
Kue Mochi. Oleh-oleh khas Kota Sukabumi. Foto: Ummu Hanif 2018.

Kota Sukabumi dikenal dengan oleh-oleh kue mochi. Ya, tidak ketinggalan, kami dibekali 2 ikat kue mochi dan 2 botol sirup pala oleh tuan rumah. Mochi dari kota Sukabumi ini isinya kacang. Yang bervariasi adalah kulitnya. Ada rasa pandan, mocha, blueberi, durian, serta vanila. Ummi suka rasa pandan dan mocha. Dan lebih suka lagi jika isinya bukan kacang, hehe. Kadang, Ummi sengaja mengeluarkan kacangnya dan memakan kulitnya saja. Lembut dan tidak tidak terlalu manis. Cocok untuk lidah Ummi.

Kalau di mall, Ummi suka membeli mochi isi kacang merah dan durian. Isinya ya, bukan rasa kulitnya. Ingin sekali mencoba membuat sendiri. Sayang belum kesampaian. Kurang niat mungkin, hehe. Jadi, tunggu ya Ummi segera ubek-ubek mbah Google nyari resep yang cocok. Tentunya juga segera dibuat ya. Tenang, pasti akan Ummi bagi di sini resep dan pengalaman membuatnya.

Sirup Pala
Sirup Pala. Oleh-oleh khas Kota Sukabumi. Foto: Ummu Hanif 2018.

Sirup pala. Rasanya mirip manisan buah pala. Tapi tidak begitu pahit. Ummi kurang suka manisan buah pala tapi Ummi suka sirup ini. Warnanya seperti pada foto. Hampir tidak merubah warna air ketika dicampur ke dalamnya. Yang di gelas, itu sirup pala. Bening ya, kayak air mineral.

Pulang

Toko Piring
Toko Piring di dekat pintu masuk tol Ciawi dari arah Sukabumi. Foto: Ummu Hanif 2018.

Google Map seringkali menunjukkan jalan alternatif baik ketika berangkat maupun ketika pulang. Tapi kami memilih untuk tetap di jalur utama walaupun sangat macet. Daripada nanti masuk kampung dan ketemu jurang, iya kan, hehe. Setelah kemacetan yang panjang, kami akhirnya sampai di dekat pintu tol Ciawi. Tentunya masih macet sampai benar-benar masuk tol. Di tengah kemacetan arah pulang inilah Ummi menemukan toko ini. Buya menawarkan berhenti, tapi Ummi memilih untuk lanjut saja. Khawatir kemalaman sampai di rumah.

Pulang, kami memilih lewat Parung. melawan arus pulang kerja. Buya lumayan mengenal wilayah ini karena sering ada kegiatan kampus di sana. Hanya saja, dari Ciawi ke Parung tentunya harus melewati Bogor. Dari tol kami ambil arah ke kota Bogor lalu dengan panduan Google Map belok ke arah Parung. Dari sini sampai ke Parung bahkan hingga ke Ciputat, jalannya lurus saja. Alhamdulillah. Dan benar saja, kami memilih jalan pulang yang tepat. Jalur Ciputat-Parung macet luar biasa sementara Parung-Ciputat lumayan lancar. Sedikit tersendat di sana-sini karena ada rumah makan dan tenda pecel lele di sepanjang jalan.

Oh iya, di sepanjang jalan ke Sukabumi kami melihat sudah banyak yang berjualan durian. Sayang tidak sempat mampir karena macet. Kemudian di Parung ternyata banyak juga yang berjualan durian. Dan sayang lagi tidak bisa mampir karena magrib sudah menjelang. Ummi minta Buya untuk mengantar ke sana lagi lain hari. Saat Buya libur dan memang tujuan kita cuma kesana, hehe. Semoga tercapai ya. Karena keinginan Ibu Rumah Tangga itu sangat sederhana. Sekedar makan durian barang sebutir. Bukan yang frozen!

 

2018,

Ummu Hanif | Mrs. Rosyidi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: