Rumahku, Tempat Belajarku


Buku Rumahku
Judul buku: Rumahku, Tempat Belajarku

Menunggu Waktu Menjadi Ibu

Saat ini kami masih sedang menjalani program hamil. Ke dokter? Bukan. Setelah 2-3 kali ganti dokter, kami memutuskan untuk menggunakan produk herbal. Diantaranya madu, buah zuriyat, kurma muda, dan berusaha konsisten mengkonsumsi sayur dan buah dalam jumlah banyak. Hal terakhir tentu saja tidak mudah. Selain itu, kami menyadari bahwa hal yang paling penting adalah meningkatkan kapasitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah tanpa henti berdo’a agar diberikan keturunan.

Untuk mengisi waktu di rumah, Ummi memutuskan untuk mulai membaca buku-buku terkait dengan pendidikan anak. Kami sudah punya beberapa buku yang saat ini antri untuk dibaca, hehe. Seperti yang Ummi pernah baca, daya baca orang Indonesia tidak setinggi minat bacanya. Ya, Ummi hampir tidak bisa menahan diri membeli buku-buku baru tetapi masih banyak buku yang bersegel di rumah. Insyaallah dengan membiasakan diri membaca, Allah akan membantu daya baca Ummi juga meningkat. Mohon do’anya ya agar kami diberikan keturunan yang soleh dan istiqomah untuk terus membaca.

Menjadikan Rumah sebagai Basis Peradaban

Singkat cerita, buku ini Ummi beli di toko buku di depan Masjid Jogokaryan, Yogyakarta, saat singgah bermalam dalam perjalanan dari Ponorogo ke Jakarta. Ada banyak buku yang kami beli di sana. Alhamdulillah buku ini sudah selesai Ummi baca. Itupun membutuhkan waktu yang cukup lama, hehe.

Buku ini mengangkat tema tentang pendidikan di rumah. Awalnya Ummi mengira penulis akan memaparkan teori seputar pendidikan di rumah oleh orang tua berdasarkan kajian Al-Qur’an dan Sunnah. Atau barangkali menjadi metode home schooling sebagai bahan utama. Ternyata tidak, buku ini tidak seberat itu. Penulis buku lebih pada mengumpulkan segala kegundahan yang kita temukan sehari-hari di masyarakat. Memaparkan bahwa keberadaan ayah dan ibu sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Orang tua harus bisa menjadi contoh dan teladan. Dengannya sangat perlu agar orang tua, terutama ayah, meluangkan waktu agar bisa bersama dengan anak-anak. Penulis juga tidak lupa memberikan contoh kasus tanpa menyebutkan pribadi pelakunya.

Rumahku, Tempat Belajarku
Salah satu bab, Keteladanan yang Utama

Ketika membaca buku ini, anda akan sering bergumam, “ah, ini yang kemaren saya baca di berita A. Ah, ini yang menjadi kegalauan saya. Ah, ini solusi yang saya inginkan, dan ah, ternyata banyak kasus seperti ini”. Selintas anda akan merasa bahwa apa yang ditulis oleh penulis adalah apa yang pikirkan. Apa yang anda baca. Apa yang anda dengar. Apa yang anda lihat. Singkat kata, penulis berhasil merangkum segala kegundahan di luar sana dalam sebuah buku. Sebagai solusi dan masukan, penulis juga mengetengahkan beberapa opsi dan menyampaikan bentuk pendidikan yang ideal menurut penulis. Hanya saja, menurut Ummi, kajiannya kurang dalam. Jadi memang buku ini lebih cocok sebagai bacaan ringan saat santai.

Orang Tua Pembelajar

Masih ada banyak buku seputar pendidikan anak di lemari Ummi. Mari mulai kita baca satu persatu. Setiap selesai satu buku, Ummi akan berbagi lagi di sini. Menyenangkan rasanya belajar dan berbagi di saat bersamaan. Di umur yang tidak lagi muda, belajar seringkali dipandang bukan kewajiban utama kehidupan kita. Pandangan yang mengerikan. Sajak yang berbunyi, ‘belajar di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu dan belajar sesudah dewasa ibarat mengukir di atas air’, jangan sampai dipahami sebagai tidak adanya kewajiban bagi orang dewasa untuk belajar dan terus menimba ilmu. Jangan pula dipahami bahwa orang dewasa tidak mampu menyerap ilmu. Sebaliknya, sajak itu memberikan dorongan kepada kita untuk belajar sedini mungkin. Dini, tidak bermakna usia kecil atau muda tapi berarti sesegera mungkin. Ada banyak di luar sana bapak dan ibu berusia 40 tahun baru mulai menghafal al-Qur’an dan hebatnya mereka bisa menghafalnya dalam waktu tidak lebih dari setahun.

Di luar sana orang-orang mengatakan bahwa anak zaman sekarang sangat pintar karena pada usia kecil sudah bertanya banyak hal yang mampu membungkam orang tua. Agar tidak menjadi orang tua yang menjawab pertanyaan anak dengan kebohongan karena ketidaktahuan atau menghentikan anak bertanya karena malu tidak bisa menjawab, alangkah indahnya jika orang tua juga terus belajar. Belajar tidak kenal usia. Kewajiban belajar melekat pada setiap pribadi sepanjang bentangan sajadah dari lahir hingga ke kubur.

Wallahu a’lam bishshawwab.

2018,

Ummu Hanif | Mrs. Rosyidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: