Sejarah Ushul Fiqh 1

2. mawar
Foto dari Google

Bismillah…

Kami memulai menuliskan artikel ini sebagai media belajar untuk kami pribadi. Sebenarnya bukan artikel, melainkan ringkasan dan intisari dari sebuah buku yang akan kami tuliskan setiap kali ada kesempatan. Menuliskan kembali membantu kami memahami isi buku dan membuat logika yang dibangun menjadi mudah dimengerti. Semoga ringkasan-ringkasan pelajaran kami bermanfaat untuk teman-teman semua.

Judul buku: Sejarah Ushul Fiqh

Sumber hukum Islam adalah al Qur’an, sunnah Rasulullah, ijma’, dan qiyas. Perkembangan penggunaan sumber hukum Islam ini dapat dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut:

Masa Rasulullah

Selama Rasulullah masih hidup, al Qur’an menjadi sumber hukum utama yang turun secara berangsur selama 23 tahun. Ayat-ayat al Qur’an seringkali diturunkan untuk menjawab permasalah umat Islam pada masa itu. Lalu penjelasan Rasulullah yang dibimbing oleh Allah menjadi sumber hukum berikutnya. Tentu tidak ada masalah yang tanpa solusi karena Rasulullah ada sebagai tempat untuk bertanya persoalan hukum.

Masa Sahabat

Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, kehidupan politik umat dipimpin oleh sahabat yang disebut sebagai Khalifatur Rasulullah atau berikutnya mulai pada masa Umar, Amirul Mukminin. Kita mengenalnya dengan sebutan Khulafaur Rasyidin. Masa ini berlansung hingga abad kedua ketika tidak seorangpun sahabat yang tersisa. Sumber hukum pada masa ini adalah al Qur’an yang mu’jizatnya qath’i dan periwayatannya mutawatir. Kemudian sunnah Rasulullah yang diyakini benar dan berasal dari Rasulullah menjadi sumber hukum kedua. Lalu ada ijma’ sahabat yang bersandar kepada al Qur’an dan Sunnah. Terakhir adalah qiyas untuk perkara yang tidak ada hukumnya namun bisa disamakan dengan kejadian yang pernah ada. Dasar hukum keberlakuan qiyas adalah ijma’ para sahabat tentang kebolehannya sebagai sumber hukum selama berlandaskan dalil yang shahih.

Lahirnya Ushul Fiqh pada Abad Kedua

Pada masa ini tidak ada lagi dijumpai sahabat Rasulullah. Di saat yang sama, ilmu mulai menjadi profesi. Maka para ulama membutuhkan kaidah dan ketentuan sebagai instrumen dalam pencetusan hukum soalan baru yang belum ada pada masa sebelumnya. Tokoh pertama yang menuliskan kitab Ushul Fiqh adalah Imam Syafi’i dengan cara mendiktekan kepada muridnya. Kita tersebut bernama Risalah, berisi tentang amr dan nahi, bayan, khabar, nasakh, hukum, dan ‘illah manshushah dalam qiyas.

Beberapa ulama Hanafiah juga menulis kitab ushul fiqh ala teolog, diantaranya Abu Zaid ad Dabusi yang merupakan generasi awal dan Saiful Islam al Bazdawi dari generasi akhir. Ibn Sa’ati kemudian menulis kitab al Bada’i yang merupakan gabungan dari kitab al Bazdawi dan al Ihkam. Kitab terakhir adalah karya salah seorang ulama teolog. Kitab al Bada’i sangat populer di kalangan ulama ‘ajam (non Arab).

Ulama teolong melahirkan cukup banyak kitab ushul fiqh aliran teologi yang mengedepankan argumen dengan akal. Beberapa nama kitab yang dicantumkan di dalam buku yang kami sarikan ini adalah al Burhan karya al Juwaini, al Mushtashfa’ tulisan Imam al Ghazali. Dua kitab ini ditulis oleh ulama teolog yang beraliran Asy’ari. Kemudian dari aliran muktazilah ada al ‘Amd karya al Qadhi Abd Jabbar dan al Mu’tamad sebagai buah fikir Abu Husain al Bashri.

Keempat kitab tersebut dirangkum oleh Fakhrudin bin Khathib dalam kitabnya berjudul al Mahshul. Isinya cenderung memperbanyak hujjah dan dalil. Kitab ini belakangan diringkas oleh Sirajuddin al Armawi dengan judul at Tahshil. Mukhtashar ini kemudian diringkas lagi menjadi kitab al Hashil oleh Tajudin al Armawi (di buku disebut orang yang sama). Imam al Qarrati mengambil kaidah dan mukaddimah dalam kedua kitab mukhtashar tersebut dan merangkumnya dalam sebuah karya yang diberi judul at Tanqihat. Imam al Baidawi melakukan hal yang sama dengan membuat mukhtashar berjudul al Minhaj. Kedua kitab yang disebut belakangan menjadi tumpuan para pemula dalam belajar ushul fiqh serta mendapat syarah dari banyak ulama.

Seperti halnya Fakhrudin, al Amidi merangkum empat kitab karya ulama teolog yang kami sebut di awal ke dalam karya berjudul al Ihkam. Beliau lebih menenkankan pada unsur tahqiq madzahib (identifikasi) dan tafri’ al masa’il (pengembangan kaidah furu’ fiqh). Imam Ibnu Hajib meringkasnya menjadi kitab al Mukhtashar al Kabir. Beliau meringkaskan lagi khusus ekstrak pendapat ulama ushul fiqh corak teolog.

Bersambung…

Pamulang, 31 Januari 2019

 

 

2 thoughts on “Sejarah Ushul Fiqh 1

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: