Etika Makan Seorang Muslim

Islam, agama yang rahmatan lil ‘alamin datang memberikan panduan dan petunjuk dalam segenap aspek kehidupan umat. Islam menjelaskan bahwa makan adalah sebuah proses memberi kekuatan kepada tubuh untuk bisa bergerak sekaligus melindunginya dari penyakit. Proses ini, makan, harus dilakukan dengan kadar seimbang, tidak boleh berlebihan dan jangan sampai pula kekurangan. Agar lebih jelas, kita bisa melihat beberapa etika makan yang diatur dalam agama Islam sebagaimana berikut.

Pertama, membaca basmalah

Seorang muslim dituntun agar senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah turunkan. Diantara yang paling tampak adalah makanan yang dimakan setiap hari. Dengan keyakinan bahwa apa yang ada di hadapannya adalah anugerah dan nikmat dari Allah akan membuatnya menahan diri agar tidak berlebihan ketika makan dan tidak mubazir.

Kedua, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Rasulullah saw mengatakan bahwa “siapa yang tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih (lemak) lalu ketika bangun pagi dia sudah menderita suatu penyakit maka hendaklah dia tidak mencela kecuali dirinya sendiri”.**

Ketiga, bersikap sederhana dan konsumsi makanan seimbang

Kenyang merupakan kata yang asing bagi umat Islam di zaman Rasulullah. Ya, mereka tidak pernah kenyang. Namun generasi yang tidak pernah kenyang itu mampu menciptakan peradaban yang pengaruhnya bisa kita rasakan hingga hari ini. Dalam agama yang kaffah ini banyak sekali tuntunan agar umat tidak berlebihan dalam hal makan.

QS Thaha ayat 20 yang terjemahnya “makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian dan janganlah melampaui batas”.

QS al-A’raf ayat 31 yang artinya “wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus setiap memasuki masjid. Makan dan minumlah tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”.

Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Muslim, Ibn Majah, dan at-Tirmidzi yang artinya “tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau dia tetap harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas”.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, Rasulullah berkata yang terjemahnya “makanan satu orang cukup untuuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang”.

“Termasuk berlebih-lebihan bila kamu memakan segala sesuatu yang kamu inginkan”, adalah hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibn Majah.

Dengan perawi yang sama dijelaskan  bahwa Rasulullah saw berkata “seorang mukmin makan dengan satu usus sementara orang kafir makan dengan tujuh usus”.

Keempat, makan dengan tiga jari

Makan dengan tiga jari menunjukkan sikap pertengahan dan seimbang sebagaimana disebutkan bahwa makan dengan lima jari disebut menunjukkan kerakusan sedang makan dengan satu atau dua jari disebut sombong dan angkuh.

Kelima, duduk tegak dan tidak bersandar

Makan dengan posisi duduk bersandar dapat membahayakan pencernaan dan kesehatan pada umumnya.

Keenam, minum dengan tiga tegukan

Minum sambil duduk dan tidak bernafas ke/di dalam gelas.

Ketujuh, makan bersama-sama

Makan bersama apalagi bersama keluarga akan menumbuhkan kasih sayang satu sama lain dan menambah selera makan.

Kedelapan, makan sambil berbincang

Dianjurkan makan sambil berbincang untuk menciptakan suasana rileks dan menyenangkan.

Kesembilan, menghormati tradisi dan budaya setempat

Tidak diperkenankan untuk menghina suatu makanan hanya karena makanan tersebut asing dan tidak biasa kita makan.

Kesepuluh, bersikap lembut terhadap orang sakit

Orang yang sedang sakit seringkali kehilangan nafsu makan sehingga butuh kesabaran luar bisa untuk memastikan si sakit mendapatkan asupan nutrisi seimbang.

Kesebelas, menjaga perasaan orang lain

Tidak membelakangi teman yang makan dalam satu majelis karena itu bisa membuat mereka tersinggung.

Kedua belas, makan buah sebelum makan besar

Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa mengkonsumsi seporsi buah sebelum makan akan memancing lambung mengeluarkan getah lambung yang membantu dalam proses pencernaan.

Disarikan dari buku Pola Makan Rasulullah.

Ps.

Buku ini menyertakan hadits Nabi yang sebagian lengkap dengan rawi dan keterangan kualitas hadits dan sebagiannya tanpa rawi dan sanad. Alangkah baiknya jika teman-teman yang membaca mencari dulu kesahihan hadits ini. Kami tidak melakukan pengecekan terhadap hadits ini karena memang di sini kami hanya menyarikan atau meringkas beberapa poin yang kami kira penting untuk kita ketahui dan kami tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukan pengecekan keaslian dan kesahihan sebuah hadits.

Pamulang, 9 Juli 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: