Sisi Lain · Traveling

Mudik Idul Fitri 2019 (Blok M-Sumbar)

Suasana Bandara Soeta H-2 Idul Fitri 2019
Suasana Bandara Soeta H-2 Idul Fitri 2019

Bismillah

Pekik rakyat akan mahalnya harga tiket pesawat dijawab dengan kalimat, “kita lihat sisi positifnya, dengan mahalnya harga tiket pesawat, masyarakat beralih menggunakan armada bis dan kereta”. Apakah jawaban itu bijak atau tidak, nilai sendiri saja ya, hehe. Di sini kami sebagai rakyat yang terkena imbas, cuma mau berbagi pengalaman aja, jangan baper!

Mudik tahun ini (idul fitri kemaren) jadwalnya ke Sumatera, tepatnya Sumatera Barat. Lebih jelas lagi, Blok M (hehe, kalau ada yang paham berarti kita sebangsa). Walaupun memiliki kendaraan pribadi tapi kami belum berpengalaman pulang ke kampuang nan jauah di mato sana mengendarai mobil pribadi. Horor saja di pikiran kami membayangkan panjangnya lintasan hutan belantara yang harus dilewati. Mohon koreksi jika salah, karena terakhir kali kami menempuh perjalanan darat lintas Sumatera adalah tahun 2014. Mengingat lambatnya pembangunan di wilayah Sumatera, kami mengira tak akan jauh berbeda kondisinya. Eniwei, opsi mengendarai mobil pribadi, tidak bisa digunakan.

Jauh-jauh hari sebelum puasa, kami sempat iseng mampir ke website PELNI, siapa tahu mereka memanfaatkan momentum kenaikan harga tiket yang lumayan gila ini untuk membuka trip mudik dan balik dari Tanjung Priuk ke Teluk Bayur. Eh, ternyata tidak ada. Ketika kami mencoba menghubungi pihak PELNI melalui email yang tercantum pada bagian pop-up (kanan bawah) layanan konsumennya, sampai hari ini tidak ada balasan.

Niatnya, mau mencoba pengalaman mudik ke Sumbar menggunakan kapal laut, hehe. Sepertinya seru. Kami pernah mendapat cerita dari Mama pengalaman beliau berlayar dari Jakarta ke Padang (tahun 80-an, hihi). Lumayan seru! Namun sepertinya belum rezeki. Semoga ada kesempatan untuk ikut dalam pelayaran wisata yang gencar ditawarkan di situs PELNI ya. Hmm, sekalian deh, do’anya semoga bisa menumpang di kapal pesiar berkeliling dunia, hihi, amin. Pasti seru menjelajah dunia seperti Ibnu Bathutha!

Suasana Bandara MIA Tanggal 17 Juni 2019
Suasana Bandara MIA Tanggal 17 Juni 2019

Pilihan terakhir kami hanya satu, plane! Kami memutuskan membeli tiket pesawat H-15 (kalau tidak salah). Kami memilih Batik Air karena sudah kehabisan tiket Garuda dan Citilink. Lion Air? Kelaut aja! Udah kapok sama managemen mereka, telatnya udah ga bisa ditoleransi. Padahal Batik dan Lion menginduk pada satu perusahaan yang sama. Sedang Sriwijaya, kami belum berminat lagi sejak pertama dan terakhir menggunakannya dulu sebelum diambil alih oleh GARUDA. Alasannya? Jangan di sini ya, hehe.

Kami mendapat tiket di harga Rp 1,9 jt-an/orang. Sudah termasuk bagasi. Biaya lainnya adalah ongkos taxi dari rumah ke bandara Soeta dan dari MIA ke rumah kami di Blok-M, Sumbar. Dari rumah ke Soeta, tarifnya standar, ya. Standar taxi. Sedang dari MIA ke Blok-M lumayan aja, hehe, Rp 520,000. Harga mobil carteran resmi bandara MIA. Kalau tidak salah Rp 20,000 untuk agen dan sisanya untuk pemilik mobil. Alhamdulillah kami mendapat mobil yang nyaman dan lumayan bersih. Sekedar info, dari Bandara MIA ke kampung kami di Blok M tidak ada layanan DAMRI. Juauh soalnya, hiks. DAMRI cuma ada ke Padang Kota.

Sementara untuk balik, kami membeli tiket 1 minggu sebelum berangkat. Kami balik ke Jakarta tanggal 17 Juni 2019. Sudah tidak bisa diundur lagi karena suami pun seharusnya sudah mulai mengajar pada hari itu. Bolos deh sehari. Tiket kami peroleh dengan harga Rp 1,5 jt-an, maskapai Batik Air. Dengan biaya mobil carteran dan taxi di harga yang sama.

Oh iya, info aja, kami balik menggunakan Batik Air yang berangkat kalau tidak salah pukul 17.00 WIB. Dijadwalkan beberapa menit sebelum kami adalah Lion Air. Dan ketika kami boarding, pesawat Lion yang akan membawa penumpang ke Jakarta (kalau tidak salah) masih belum kelihatan di landasan pacu.

Note:

  • Foto di atas adalah suasana Bandara Soeta yang sepi kayak kuburan H-2. Bahkan lebih sepi daripada hari biasa;
  • Foto di bawah, Bandara MIA tanggal 17 Juni 2 minggu setelah lebaran, ramai sekali. Kami mengira, sepertinya semua orang berpikir untuk melewatkan dulu masa-masa padatnya arus balik baru kembali ke rantau untuk menghindari harga tiket yang tidak masuk akal (tapi wajib masuk kantong, hehe). Yang bisa memutuskan pilihan ini tentunya bukanlah karyawan apalagi PNS ya.

 

Kedaung, 17 Juli 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s